Food Fact: Manfaat Kunyit Asem untuk Meredahkan Nyeri Haid

Sabtu, 11 Mei 2019 07:17 WIB

Manfaat Kunyit Asem untuk Meredahkan Nyeri Haid

Haid (menstruasi) merupakan proses pengeluaran darah dari uterus disertai serpihan selaput dinding uterus pada wanita dewasa yang terjadi secara periodik (Maulana, 2009). Pada saat dan sebelum haid (menstruasi), seringkali wanita mengalami rasa tidak nyaman di perut bagian bawah. Akan tetapi jika rasa tidak nyaman itu sampai mengganggu sehingga harus meninggalkan pekerjaannya dan memaksanya harus beristirahat atau mencari pengobatan keadaan ini disebut sebagai nyeri haid (dismenorea). Ada dua jenis dismenorea, yaitu primer dan sekunder. Pada masa puber ini biasanya dismenorea yang dialami adalah dismenorea primer.

Produk herbal saat ini memang sedang menjadi alternatif terutama bagi remaja putri yang ingin mengurangi rasa nyeri tanpa mendapatkan efek samping (Triratnawati, 2003). Salah satu produk herbal yang familiar untuk mengurangi nyeri haid adalah minuman kunyit. Dalam hal ini masyarakat Indonesia percaya bahwa memiliki kebiasaan minum minuman kunyit untuk mengurangi keluhan pada saat haid. Namun, masyarakat belum mengetahui kandungan dari kunyit itu sendiri. Minuman kunyit adalah suatu minuman yang diolah dengan bahan utama kunyit. Secara alamiah memang kunyit dipercaya memiliki kandungan bahan aktif yang dapat Berfungsi sebagai analgetika,antipiretika,dan antiinflamasi. Selain itu dijelaskan bahwa Minuman kunyit sebagai pengurang rasa nyeri pada dismenore primer memiliki efek Samping minimal (Limananti&Triratnawati,2003). Senyawa aktif atau bahan kimia yang terkandung dalam kunyit adalah kurkumin (Putri,2006)

Curcumine akan bekerja dalam menghambat rekasi cyclooxygenase(COX-2) sehingga menghambat atau mengurangi terjadinya inflamasi sehingga akan mengurangi atau bahkan menghambat kontraksi uterus.Dan curcumenol sebagai analgetik akan menghambat Pelepasan prostaglandin yang berlebihan melalui jaringan epitel uterus dan akan Menghambat kontraksi uterus sehingga akan mengurangi terjadinya dismenore(Wiesere, 2007).

Shared: